Sejarah Kopi Sulingan

by - May 19, 2020




Pegunungan Menoreh sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil kopi, barangkali sejak zaman penjajahan. Era kejayaannya sekitar tahun 1960an. Pada masa itu masyarakat memiliki tradisi mengolah kopi secara tradisional. Biji kopi yang telah kering disangrai menggunakan periuk tanah, kemudian ditumbuk menjadi bubuk kopi siap seduh. Kopi biasanya disajikan hangat ditemani secuil gula aren. Produk mereka sendiri juga. Pada zamannya, kopi sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Menoreh. Seiring bergulirnya waktu, kopi Menoreh kian tersisihkan. Banyak pohon kopi dibabat. Kalaupun masih hidup, buahnya nyaris tak lagi dipetik.

Jatimulyo adalah satu desa (belakangan disebut kalurahan) di Kabuputen Kulonprogo yang telah sejak lama menjadi kawasan pengamatan burung bagi puluhan komunitas pengamat burung di Jogja. Pada tahun 2014, pemerintah desa menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) Pelestarian Lingkungan Hidup, yang salah satunya mengamanatkan perlindungan bagi jenis-jenis burung yang hidup di wilayah Jatimulyo. Sebuah kebijakan yang didukung para pengamat dan pemerhati burung. Pada tahun yang sama, melalui sebuah forum kegiatan pengamat burung Jogja, tercetus ide untuk menjadikan kopi sebagai 'duta konservasi burung' di Jatimulyo.

Gagasan tersebut, didukung dengan cerita kejayaan kopi Menoreh di masa lampau melatar-belakangi Imam Taufiqurrahman, Kelik Suparno, dan Sidiq Harjanto kemudian tergerak untuk menghidupkan kembali tradisi kopi di Menoreh, khususnya di Jatimulyo. Awal 2015 mereka bersepakat mendirikan 'Kopi Sulingan'. Tidak sekedar kopi yang harum saat tersaji, namun ada harapan tentang kelestarian burung-burung di Jatimulyo di setiap cangkirnya.

You May Also Like

0 comments