facebook instagram
Powered by Blogger.
  • Home
  • Tradisi
  • Produk
    • Kopi
      • Robusta
      • Arabika
    • Gula Aren
    • Gulo Ampas
    • Produk Lain
  • Burung Jatimulyo
  • Program
    • Adopsi Sarang Burung
    • Dana Riset dan Konservasi
  • Tentang Kami
    • Cerita Kami
    • Team

Kopi Sulingan

Kopi dan Konservasi Burung

 Penulis: Kasidi | Penyunting: Sidiq Harjanto

 

Rutinitas sehari-hari membuat badan menjadi terasa lelah dan letih. Namun, rasa lelah itu terobati setelah kedatangan tamu untuk bermain dan belajar bersama dengan teman-teman. Rabu, 27 September 2023, saya dan teman-teman yang tergabung dalam kelompok KTH Wanapaksi kedatangan tamu istimewa. 

Murid-murid SD Negeri 1 Jonggrangan menjadi tamu yang kami anggap istimewa. Selain datang untuk bermain, mereka kami undang ke sekretariat KTH Wanapaksi untuk belajar mengenali lingkungan alam sekitar kita. Outing class, begitu istilahnya.

 


Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian program kegiatan tahunan KTH Wanapaksi dengan mengundang anak-anak usia sekolah sebagai penerus dalam upaya pelestarian lingkungan yang dijalankan teman-teman divisi konservasi. Sebanyak 70 peserta dari kelas IV, V, VI dan tiga orang guru pendamping yang kami undang.

Tepat pukul 08.00, diawali dengan sambutan oleh ketua KTH Wanapaksi dan perwakilan BKSDA Yogyakarta, lalu dilanjutkan dengan kegiatan di lapangan. Sebelum berangkat, tak lupa foto bersama dan pembagian kelompok terlebih dahulu. Selama perjalanan lapangan, anak-anak diberi pemahaman mengenai pentingnya sumber air, batuan kars, dan tumbuhan bagi kehidupan. Kami juga dibantu oleh teman teman mitra kami, Yayasan Kanopi Indonesia, guna memberikan pengetahuan yang lebih luas bagi anak- anak.

 


Setelah selesai di lapangan, perjalanan kembali ke sekretariat KTH untuk istirahat dan makan siang. Acara dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab yang berkaitan dengan hasil belajar lapangan. Hadiah diberikan kepada mereka yang aktif sehingga membuat anak-anak begitu ramai dan gembira. Selesai pada pukul 11.45 dengan doa penutup dan kembali ke Jonggrangan.

Foto dok. Supangat




Penulis:  Alfian Surya Fathoni, Canavalia Wedelia Arfentri, Nur Roid Nafiatul Azizah, M Ikhsan Al Ghazi, Naufal Urfi Dhiya'ulhaq, Raafi Nur Ali

 
Laba-laba Cheiracanthium daquilium (Cheiracanthiidae) (Dok. Alfian S. Fathoni)

Kalurahan Jatimulyo menjadi salah satu hotspot keanekaragaman hayati, geodiversitas, dan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentang alam Jatimulyo sebagai bagian dari perbukitan karst Menoreh didominasi oleh hutan rakyat atau wanatani. Sistem pemanfaatan lahan yang juga bisa disebut dengan agroforestri.

Masyarakat lokal telah lama menerapkan hutan perkebunan dengan menanam tanaman keras, seperti pohon kelapa, aren, dan sengon yang menaungi pohon kopi, coklat, dan vanili. Kombinasi perbukitan Menoreh yang hijau dengan hutan perkebunan yang rapat itu membuat Jatimulyo menjadi habitat kehidupan alam liar yang bagus. Hal inilah yang ikut menjadikannya memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi (Mufti, 2020). 

Jatimulyo menggaungkan diri sebagai “Desa Ramah Burung”, sebuah aksi konservasi nyata yang dilatarbelakangi hilangnya kicauan burung di pagi hari akibat praktik perburuan di masa lalu. Berbicara konservasi di sana, terdapat hal yang menarik dari komoditas perkebunan, yaitu kopi. Tahun 2014 tercetus ide untuk menjadikan kopi sebagai “duta konservasi burung” di Jatimulyo. Langkah ini disusul setahun berikutnya, dengan mendirikan “Kopi Sulingan” yang menjadi simbol harmonisasi hubungan antara manusia, alam, dan satwa. Nama ini diambil dari nama burung kicauan, yaitu sulingan atau tledekan dengan nama latin Cyornis banyumas. Burung sulingan sendiri dipilih sebagai nama karena jenis itu menjadi burung kebanggaan masyarakat Jatimulyo (Sulfiantono, 2018).

Jatimulyo seluas 1.600 ha dengan ketinggian antara 300-800 meter di atas permukaan laut memiliki jenis kopi yang dibudidaya sejak zaman kolonial, yaitu kopi robusta (dominasi) dan arabika dataran rendah (unik & istimewa). Nostalgia tulisan Imam Taufiqurrahman,  Sidiq Harjanto, dan Kelik Suparno yang berjudul “Birds and Coffee: community-led conservation in Jatimulyo village, Yogyakarta, Java, Indonesia” (Taufiqurrahman dkk, 2019) mencatat setidaknya ada 99 spesies burung di Jatimulyo. Kami (Kalamangga), menuliskan “Laba-laba dan Kopi: pentingnya konservasi laba-laba dan dampaknya terhadap komoditas kopi di Jatimulyo”. Tercatat lebih dari 148 spesies laba-laba di Jatimulyo dari pendataan kami sepanjang 2023 ini.

 

Laba-laba dari Suku Thomisidae (Dok. Alfian S. Fathoni)

Kopi sebagai komoditas unggulan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan usaha konservasi biodiversitas di Jatimulyo, tentunya memiliki gangguan berupa agroklimat dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (Heryanto, 2021). Di sinilah peran beberapa spesies laba-laba sebagai pengontrol hama tanaman kopi jarang diketahui, bahkan dianggap tidak memiliki peran secara langsung oleh masyarakat awam. 

Laba-laba diperkirakan memakan 400-800 juta ton mangsa pertahun dalam berbagai tipe ekosistem (Nyffeler & Birkhofer, 2016). Hal tersebut membuat keberadaan laba-laba pada suatu habitat, terutama lahan agrikultur sangat penting untuk menekan populasi hama tanaman budidaya. Sekitar setengah dari semua jenis laba-laba di dunia menggunakan jaring untuk menangkap mangsa, sementara setengahnya lagi menangkap mangsa tanpa mengandalkan jaring (Taylor, 2013). Perilaku berburu laba-laba dilakukan dengan bersembunyi atau mengejutkan mangsa, seperti famili Thomisidae, atau dengan mengintai dan mengejar mangsanya seperti famili Salticidae.

Selain menjadi predator, laba-laba juga memberikan kontribusi penting dalam ekosistem di kawasan Jatimulyo. Jaring laba-laba Nephilla pilipes seringkali menjadi material sarang bagi beberapa burung pemakan serangga, seperti empuloh janggut (Alophoixus bres) dan kehicap ranting (Hypothymis azurea). Jaring laba-laba ini berperan sebagai perekat bagi material-material lainnya (BirdNote, 2022). Beberapa burung pemakan serangga menjadikan laba-laba sebagai bagian dari pakannya. Selain itu, laba-laba mengandung banyak senyawa taurine yang sangat penting untuk pertumbuhan anakan burung (BirdFact, 2021).

Nephila pilipes (Dok. Alfian S. Fathoni)

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh kelompok Kalamangga Jogja, terdapat 148 jenis laba-laba dan 36 jenis di antaranya ditemukan di sekitar komoditas kopi. Laba-laba dari famili Salticidae, Cheiracanthiidae, Araneidae, Tetragnathidae, Oxyopidae, Clubionidae, dan Lycosidae yang telah ditemukan memiliki peran sebagai pengontrol hama (Sarma et al. 2013). Peran ini sangat bermanfaat bagi keberlangsungan produksi kopi di Jatimulyo.

Dengan melindungi habitat laba-laba, keberlanjutan produksi kopi yang berkualitas tinggi di Jatimulyo dapat dipastikan, sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati yang ada. Harapan kami aksi nyata yang selaras dengan Peraturan Desa No 08 Tahun 2014 Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup dapat terus terjaga.dari generasi kini sampai generasi selanjutnya.  


DAFTAR PUSTAKA
BirdFact. 2021. Do Birds Eat Spiders? (Complete Guide). Diakses pada laman : https://birdfact.com/articles/do-birds-eat-spiders pada tanggal 28 juli 2023
BirdNote. 2022. Spider Silk - Duct Tape for Bird Nests: A flexible, resilient material for construction and repair. Diakses pada laman : https://www.birdnote.org/listen/shows/spider-silk-duct-tape-bird-nests pada tanggal 28 juli 2023
Taylor, B. 2013. Sensational Spiders: A comprehensive guide to some of the most intriguing creatures in the animal kingdom. Armadillo.
Heryanto, R. 2021. Mengenal Ciri-ciri, Gejala, Serangan dan Pengendalian Hama Tanaman    Kopi (Coffea sp.). BPPSDMP: Kementerian Pertanian.
Mufti, F. 2020. Struktur Komunitas dan Upaya Konservasi Burung Di Desa Jatimulyo, Kulon Progo, D.I.Y. Thesis. Biologi: UGM
Nyffeler, M. & K. Birkhofer. 2017. An Estimated 400-800 Million Tons of Prey are Annually Killed by the Global Spider Community. Sci Nat, vol 104:30.
Sarma, S., D. Pujari & Z. Rahman. 2013. Role of Spiders in Regulating Insect Pests in the Agricultural Ecosysten -An Overview. JIARM: 100-117.
Sulfiantono, A. 2018. Desa Ramah Burung Ke Desa Wisata dan Tangguh Bencana. Kedaulatan Rakyat, 22 Desember 2018. Yogyakarta.
Taufiqurrahman, I., S. Harjanto & K. Suparno. 2019. Birds and coffee: Community-led Conservation in Jatimulyo Village, Yogyakarta, Java, Indonesia. BirdingASIA 32: 108–111.



Penulis: Supangat | Penyunting: Sidiq Harjanto 

Foto jepretan Mas Kir.

Pada hari Senin – Selasa, 5 – 6 Juni 2023, KTH Wanapaksi kedatangan tamu spesial, yaitu Paguyupan Petani Muda (PPM) Mendolo. Cuaca dingin, berkabut, dan agak grimis tak menyurutkan semangat kawan-kawan pemuda yang berasal dari Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan. Jauh-jauh dari Pekalongan, kedatangan mereka adalah dalam rangka “sinau bareng” bersama Wanapaksi. 

Semakin banyak saja kelompok yang melakukan kunjungan studi banding ke Wanapaksi. Bukan masalah kami sudah pintar, saya kira mereka datang untuk melihat dan membuktikan langsung apakah yang mereka dengar tentang kami benar-benar diterapkan atau dilakukan. Wanapaksi sendiri tampaknya sudah cukup konsisten, meskipun yang dilakukan masih terbilang hal-hal kecil, namun bukan wacana semata. 

Oke, kembali ke kunjungan PPM Mendolo. Setelah disambut Ketua Wanapaksi Bapak Sujarwo dan beberapa anggota lain, para peserta diantar ke homestay yang dikelola para anggota KTH Wanapaksi yang dikoordinir Ibu Yuni. Malamnya, kami berkumpul di Omah Kopi Sulingan untuk perkenalan anggota kelompok dari kedua pihak, dilanjutkan diskusi berbagi pengalaman masing-masing. 

Pertanyaan yang paling banyak muncul adalah bagaimana cara Wanapaksi mengelola organisasi dan kegiatan mulai dari wisatanya, homestay, adopsi sarang, dan lain sebagainya. Bagaimana strategi Wanapaksi untuk mengatur banyak anggota, sedangkan di tempat lain untuk sekadar mengumpulkan orang saja susah. 

Saya jadi teringat bahwa awal-mulanya susah juga untuk mengembangkan kegiatan di Wanapaksi. Saat uji coba homestay, misalnya. Kami harus keliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan rencana tersebut. Para warga rata-rata bilang tidak percaya diri, rumahnya tidak layak, belum punya kasur, dll.  

Hal yang perlu ditekankan adalah kita mesti bisa meyakinkan tuan rumah bahwa tidak masalah dengan kondisi yang seadanya. Kelengkapan yang paling utama adalah kamar mandi dan toilet. Sementara yang lainnya, dilengkapi sambil jalan. Ilmu tinemu kanti laku, yang penting mau berproses dulu. 

Di sela-sela diskusi malam itu, ada jeda istirahat sebentar, mendengar dan menyaksikan pertunjukan rondha thek-thek besutan para sesepuh KTH Wanapaksi. Saking serunya, salah satu aggota PPM Mendolo bahkan ikut tampil beryanyi. Dalam sebuah kelompok yang kami lakukan agar tetap solid adalah menerapkan pembagian peran masing-masing anggota. Melalui rondha thek-thek ini misalnya, para anggota senior tetap bisa menyalurkan hobi sekaligus mengajarkan kepada yang lebih muda. 

Berbagi pengalaman menjadi interpreter.

Saya rasa, prinsip pembagian tugas sangat penting dalam organisasi. Di dalam kepengurusan KTH Wanapaksi ada ketua, bendahara, sekretaris, koordinator-koordinator antara lain: konservasi, wisata, pemberdayaan perempuan, homestay, kaderisasi, dan humas. Masing-masing harus bekerja sama agar semuanya bisa sinergis. 

Di KTH Wanapaksi, kami melakukan pertemuan rutin tiap bulan. Tujuannya agar kita bisa saling tatap muka untuk membahas program, termasuk kendalanya. Setiap koordinator wajib menyampaikan apakah ada masalah atau kendala tersebut. Semua lalu dibahas untuk dipecahkan bersama. 

Kami juga melakukan pendelegasian secara adil. Misalnya ketika ada peluang pelatihan, informasinya dishare kepada anggota. Hal ini untuk menghindari ungkapan “ajek kok kowe terus”, biar semua bisa berproses tanpa merasa dibeda-bedakan. Biar kelompok tetap sehat, transparansi keuangan juga menjadi hal yang wajib. 

Belajar membuat rangka hide untuk pengamatan burung dan satwa liar.

Program unggulan kami adalah Adopsi Sarang. Program ini tujuannya untuk menambah populasi burung, terutama yang terancam punah seperti burung sulingan (Cyornis banyumas). Dana adopsi terutama digunakan untuk operasional penjagaan sarang. Selain itu, juga disalurkan sebagai kompensasi kepada penemu/pelapor sarang, pemilik lahan tempat bersarang, tim piket/penjaga sarang, kas KTH, dan kas RT. 

Meskipun nilainya tak seberapa besar, tetapi warga masyarakat jadi cenderung merasa ikut memiliki dan pada akhirnya juga ikut menjaga. Hal ini sangat sejalan dengan semangat melaksanakan Perdes Nomor 08/Tahun 2014 Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup di lingkup Kalurahan Jatimulyo. 

Program lainnya yang pernah dijalankan Wanapaksi adalah pengamatan burung bersama warga. Kami lakukan tiap bulan, bergantian di 12 padukuhan di Jatimulyo. Tujuannya selain kami mendapatkan data burung, juga agar warga lebih peduli dengan lingkungan di sekitar mereka. Kami menjalin mitra dengan Yayasan Kanopi Indonesia, Bisa Indonesia, Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ), Biolaska, Bionic, dan masih banyak lagi.

Kami berharap agar apa yang kami sampaikan dalam diskusi kemarin bisa memberikan manfaat bagi PPM Mendolo. Semoga melalui kunjungan tersebut, bisa terbentuk kerjasama antar dua kelompok yang sama-sama sedang mengupayakan pelestarian alam di desa masing-masing. Salam Lestari!


Penulis: Sidiq Harjanto


Tanggal 11 Maret kemarin diperingati sebagai Hari Kopi Nasional. Perayaan ini telah dimulai sejak tahun 2019, setelah satu tahun sebelumnya ada momentum pengukuhan Dewan Kopi Indonesia (Dekopi), tepatnya pada 11 Maret 2018. Dekopi dibentuk dalam kerangka mempopulerkan kopi sebagai komoditi unggulan, dan memajukan industrinya. 

Indonesia saat ini berada pada posisi ke empat negara-negara penghasil kopi terbesar di dunia, setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Menurut data yang dirilis BPS, pada tahun 2022 produksi kopi Indonesia meningkat sebesar 1,10 % menjadi 794.800 ton, setelah sebelumnya 786.191 ton pada tahun 2021.

Kabupaten Kulonprogo, sebagai salah satu penghasil kopi di lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta, menyumbang kopi robusta sebanyak 434 ton dan arabika sebanyak 5 ton (Statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2020 - 2022). Jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan produksi nasional. Namun, tentu saja jumlah produksi kopi tidak bisa dijadikan sebagai parameter satu-satunya dalam melihat potensi kopi suatu daerah. Kita perlu mencermati berbagai faktor, termasuk luasan lahan yang tersedia, dan metode pembudidayaannya.

Kopi di Kulonprogo tersebar di Pegunungan Menoreh yang sudah ditanami kopi sejak jaman kolonial. Jenisnya didominasi robusta. Para petani kopi robusta, yang menurut data terbitan Sekretariat Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (2020), jumlahnya mencapai 5.297 orang, membudidayakan kopi ini di lahan milik, dengan metode pembudidayaan berbasis wanatani. Artinya, kopi tumbuh di antara beragam jenis tanaman komoditi lainnya, seperti: cengkeh, pala, kakao, dan aneka buah. Pola pembudidayaan seperti ini merupakan adaptasi dari luasan lahan yang terbatas.

Geliat produksi kopi di Kulonprogo juga bisa dilihat dari munculnya produsen-produsen kopi lokal yang menghasilkan kopi siap konsumsi. Warung-warung kopi yang menyajikan seduhan kopi lokal, tak ketinggalan, ikut menjamur. Tumbuhnya pariwisata di Pegunungan Menoreh turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis ini.

Ada beberapa isu yang bisa diangkat dalam konteks produksi kopi di Indonesia. Pertama, pembudidayaan. Saya tidak akan menyinggung masalah teknik penanaman dan perawatan tanaman kopi karena sudah banyak informasi mengenai hal ini. Saya malah akan menyoroti mengenai optimalisasi peran keanekaragaman hayati dalam produksi kopi. Sesuatu yang tampaknya relatif jarang diangkat.
 

Burung dan lebah untuk kopi 

Burung dan lebah menjadi dua kelompok fauna yang, menurut banyak penelitian, memiliki peran penting dalam pertanian, termasuk kopi. Banyak jenis burung memangsa serangga, sehingga pada gilirannya berperan dalam mengontrol populasi yang bisa saja merusak komoditi jika populasinya meledak. Lebah, sebagai pemanen nektar dan serbuk sari, telah diyakini menjadi agen penyerbuk yang handal.

Burung sulingan di pohon kopi.

Lalu, bagaimana mengoptimalkan peran kedua kelompok fauna bermanfaat tadi dalam mendukung produktivitas kebun-kebun kopi kita? Jatimulyo sebagai salah satu desa di Menoreh telah menjadi pionir dalam mengusung ‘desa ramah burung’. Semua jenis burung dilindungi di desa ini. Segala bentuk perburuan dilarang melalui terbitnya Peraturan Desa. Burung-burung liar dipertahankan manfaat ekologisnya dengan cara membiarkan mereka hidup bebas di kebun-kebun warga. 

Secara teknis, mengoptimalkan peran burung tidak cukup hanya dengan melindunginya dari perburuan. Burung membutuhkan relung habitat yang cocok. Kebun-kebun produksi juga mesti menarik burung untuk singgah. Model tanam tumpang sari atau wanatani ala masyarakat Menoreh bisa menjadi pilihan dalam mempertahankan habitat bagi burung-burung liar. Dengan variasi jenis tumbuhan pengisi dan variasi strata vegetasi, meningkatkan peluang bagi burung untuk mencari pakan dan bahkan bersarang. Meskipun demikian, masih perlu banyak riset spesifik untuk terus mengoptimalkan jasa ekologi burung bagi pertanian kita.

Lebah, kelompok serangga ini sering sekali kita dengar, namun faktanya kurang dikenal sebagai sebuah ‘keluarga’ besar. Kebanyakan orang hanya mengenal lebah sebagai serangga bersengat yang biasa dibudidaya sebagai penghasil madu. Padahal, jenis lebah sangatlah banyak. Selain lebah penghasil madu yang umum dikenal, masih ada lebah nirsengit atau dikenal sebagai klanceng. Jumlah jenisnya di Indonesia tak kurang 40 spesies. Belum lagi, kelompok lebah soliter yang jumlah jenisnya jauh lebih banyak. Apa itu lebah soliter? Sederhananya, lebah soliter adalah lebah yang hidupnya sendirian, tidak berkoloni sebagaimana lebah madu dan klanceng.

Mengoptimalkan jenis-jenis lebah sebagai agen penyerbuk tanaman komoditi, termasuk kopi, bisa dilakukan dengan menjaga habitat sehingga mereka memiliki ruang hidup. Bisa juga dengan cara mengintegrasikan budidaya lebah penghasil madu dalam pengelolaan lahan pertanian kita. Tantangannya adalah bagaimana melakukan praktik pertanian yang minim insektisida, atau bahkan sama sekali tidak menggunakan insektisida, namun serangan hama tetap bisa dikendalikan. Lagi-lagi, kita masih perlu mendorong riset-riset yang mampu memberikan rekomendasi yang lebih aplikatif.
 

Perbaikan pengolahan pascapanen

Isu kedua yang hendak saya soroti dalam produksi kopi di Indonesia adalah pascapanen. Buah kopi yang dihasilkan melalui pembudidayaan yang sangat bagus sekalipun, bisa menjadi biji kopi jelek jika proses pascapanennya jelek. Pengolahan pascapanen sendiri pada prinsipnya ada 3 metode: kering buah (natural), kupas madu (honey), dan kupas cuci (washed). Dari ketiga metode dasar tersebut kemudian berkembang metode-metode turunan lain yang terus berkembang menghasilkan kopi-kopi eksperimental dengan cita rasa yang biasanya mampu menawarkan pengalaman yang unik.

Pada konteks pascapanen, kita perlu membagikan metode-metode yang bisa menjamin kopi yang dihasilkan memiliki cita rasa yang unggul kepada khalayak. Dibutuhkan prosesor-prosesor yang dari gudang-gudang mereka keluar kopi-kopi dengan cita rasa unggul. Prosesor adalah sebutan bagi mereka yang mengolah buah kopi yang dipanen dari kebun menjadi kopi beras (green bean). Sekali lagi, kopi yang pada dasarnya dihasilkan dari pembudidayaan yang baik, belum tentu enak jika tidak diolah dengan baik. Di sini, peran prosesor sangat menentukan.

Pengeringan kopi pada proses honey.

Pengembangan metode pengolahan pascapanen melalui eksperimen-eksperimen bisa membuka ruang bagi para prosesor untuk berinovasi dalam memperluas spektrum pengalaman rasa bagi para penikmatnya. Saya ingat, beberapa tahun lalu, kami mencoba melakukan uji coba prosesing kopi arabika dari ketinggian di bawah 1.000 mdpl dengan metode tertentu dan hasilnya bisa menghasilkan cita rasa yang cukup menarik.
 

Penguatan nilai dan budaya kopi.

Kopi sebagai sebuah komoditi bukan satu-satunya peluang ekonomi yang bisa dijual. Banyak para penikmat kopi yang menginginkan pengalaman mengunjungi kebun, ikut memproses kopi dari kebun, atau pengalaman menyangrai kopi. Pada titik ini, pengalaman-pengalaman itu bisa ditawarkan dalam kemasan wisata yang pada gilirannya bisa menumbuhkan peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha kopi baik di hulu (kebun), maupun di hilir (industri pengolahan).

Terakhir, tentang budaya konsumsi kopi. Indonesia sendiri, saat ini tampaknya sedang mengalami pertumbuhan budaya minum kopi. Hal ini bisa dilihat dari tumbuhnya kedai-kedai kopi, bahkan di kota-kota kecil. Kedai kopi tak lagi sekadar tempat minum biasa, namun mampu menjadi melting pot bagi orang-orang untuk berdiskusi dan membicarakan banyak hal. Kalau kopi bisa membuat orang lebih produktif dengan aneka gagasan yang muncul di kedai-kedai kopi ataupun di teras-teras rumah, maka tak salah kiranya jika kita terus berikhtiar memperkenalkan minuman ini kepada masyarakat luas.

Penulis: Sujarwo* | Penyunting: Sidiq Harjanto

  

Sebelum terbentuknya KTH Wanapaksi, kami sebenarnya adalah para pemburu burung. Hingga kira-kira tahun 2013 – 2014, kami merasakan kicauan burung kok semakin jarang terdengar. Hutan dan kebun menjadi sepi. Beberapa waktu kemudian, pengamat burung dan fotografer satwa liar berdatangan. Pemerintah desa telah mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 8 Tahun 2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup. Segala hal yang berkaitan dengan lingkungan hidup di Jatimulyo diatur oleh perdes tersebut. Salah satunya adalah larangan berburu burung.

Di tahun 2015, berdiri sebuah unit usaha pengolahan kopi yang dirintis oleh Imam Taufiqurrahman, Sidiq Harjanto, dan Kelik Suparno yang diberi nama Kopi Sulingan. Bisnis olahan kopi ini berhasil meningkatkan harga jual buah kopi dari harga Rp. 2.000,- per kg menjadi Rp. 6.000,-. Hal ini memberi motivasi sehingga masyarakat Jatimulyo kembali merawat kopi.

Pada tahun 2016, Kopi Sulingan mengawali adopsi sarang yang biayanya didapatkan dari sebagian keuntungan penjualan kopi. Plang larangan berburu juga dipasang di beberapa titik strategis. Kopi Sulingan menginspirasi warga untuk turut berpartisipasi dalam upaya konservasi. Akhirnya kami bersepakat untuk berhenti memburu burung dan bertekad menjadi pengaman burung di Jatimulyo dari perburuan. 

Tekad untuk melestarikan burung dibuktikan oleh beberapa mantan pemburu burung di lingkup Gunungkelir yang membentuk Masyarakat Pemerhati Burung Jatimulyo (MPBJ). Kelompok ini sebagai pelestari burung, menjadi garda depan dalam mengawal Perdes 8/2014, khususnya penegakan pasal pelestarian burung. 

Selain MPBJ, dibentuk juga kelompok budidaya lebah klanceng dengan tujuan pemanfaatkan potensi lebah liar di sekitar tempat tinggal warga. Budidaya klanceng juga ditujukan untuk mengalihkan perburuan burung supaya supaya mendapatkan pemasukan dari sumber lain yang sifatnya berkelanjutan.  

Seiringnya berjalannya waktu, kami sering kedatangan tamu pengamat burung dan fotografer dan sering adanya kunjungan dari berbagai instansi. Untuk mengakomodir kegiatan yang semakin berkembang, kami sepakat membentuk kelompok formal yaitu Kelompok Tani Hutan (KTH) WANAPAKSI di tahun akhir 2018, tepatnya pada 2 Desember 2018. Anggota awal kelompok kami pada waktu itu sebanyak 52 orang. Selanjutnya, MPBJ dan kelompok budidaya lebah melebur ke dalam organisasi KTH Wanapaksi.

Pembinaan generasi muda menjadi salah satu program prioritas Wanapaksi

Di awal, Wanapaksi memang fokus pada konservasi burung. Namun, seiring berjalannya waktu kami sadar harus menjaga habitatnya juga. Konservasi burung tanpa menjaga habitat tentu saja sulit, karena habitat memiliki arti penting bagi kehidupan burung. Program ungulan kami adalah adopsi sarang, dan pengembangan ekonomi dari hutan rakyat, seperti budidaya kopi, produksi gula, dan aneka keripik dedaunan. 

Sebagai upaya memelihara lingkungan, anggota KTH Wanapaksi setiap awal musim hujan selalu menanam pohon di lokasi resapan air. Harapan kami, air tetap melimpah, tanaman subur, dan otomatis burung-burung akan semakin banyak.

KTH Wanapaksi terbuka menerima siapa saja yang ingin belajar bersama. Beberapa KTH maupun kelompok lain dari berbagai daerah di Indonesia telah berkunjung untuk studi banding tentang konservasi dan pengelolaan hutan rakyat. Kami juga mempunyai paket eko-eduwisata di antaranya: pengamatan burung, budidaya lebah klanceng, pembuatan gula semut, dan proses pembuatan kopi.

Tahun ini, kami telah membuat rancangan program yang akan dijalankan KTH Wanapaksi selama 5 (lima) tahun ke depan.  Program ini disusun melalui penjaringan aspirasi dari anggota sejak tahun kemarin. Inti dari program-program yang akan dijalankan meliputi: konservasi burung dan habitatnya, penguatan generasi muda Wanapaksi, dan pengembangan ekonomi berbasis hutan rakyat. 

Kami mengharapkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan program-program ini. Semoga dengan berjalannya program-program ini bisa mewujudkan cita-cita kami, menjadikan Jatimulyo sebagai pionir 'desa ramah burung' di Indonesia. Salam Lestari!

 

*Sujarwo adalah Ketua KTH Wanapaksi periode tahun 2022-2023.

Foto: dok KTH Wanapaksi

Penulis: Supangat | Penyunting: Sidiq Harjanto


Perkenalkan, namaku Supangat. Aku lahir dan besar di Pedukuhan Gunungkelir, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Sehari-hari, aku adalah seorang terapis. Selain menekuni profesi penyehat tradisional, aku orangnya suka belajar. Aku belajar banyak hal. Ketika semua bisa bermanfaat untuk diri sendiri bahkan orang lain, kenapa tidak?

Kebetulan, di dusun kami ada perkumpulan orang-orang yang peduli dengan lingkungan, terutama pelestarian burung di alam. Aku langsung tertarik untuk ikut ngumpul. Kegiatan itu diinisiasi oleh Kelik Suparno dan kawan-kawannya sejak 2015 lewat usaha Kopi Sulingan. Tak lama kemudian, aku bergabung. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini berkembang menjadi Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi. Kegiatan utamanya adalah pelestarian burung dan pengembangan hutan rakyat.

Satu hal yang kurasakan setelah aktif di kegiatan konservasi adalah aku jadi lebih menyadari pentingnya kepedulian terhadap keanekaragaman hayati (kehati). Banyak juga kegiatan mahasiswa dan peneliti. Aku bisa bertemu banyak orang yang berbeda sehingga memperluas pengetahuan dan pertemanan.


Seekor induk burung cucak kuning sedang memberi makan anaknya, salah satu foto karya Supangat.

Satu kenangan yang tak terlupakan bagiku adalah saat acara Pertemuan Pengamat Burung Indonesia pada tahun 2018. Aku diharuskan bercerita di forum pertemuan itu. Berbicara di depan banyak orang.  Perasaan panik, grogi, demam panggung, campur-aduk pokoknya. Masalahnya, aku belum pernah bicara di depan forum sebesar itu.

Aku juga tak tahu harus berbicara tentang apa. Akhirnya, aku bicara tentang pemanfaatan tanaman-tanaman untuk kesehatan. Kucontohkan kencur, misalnya, bisa bermanfaat untuk pencernaan kita. Blas, ora nyambung karo manuk! 'Beda jalur' dengan tema kegiatan, biar saja. Yang penting aku berani.

Pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman itu adalah: “Perang yang paling sulit adalah melawan pikiran kita sendiri”. Belum dijalani sudah bilang tidak mampu, tidak bisa. Alhamdulillah, aku bisa melawan pikiranku sendiri. Sejak saat itu, aku jadi jauh lebih percaya diri berbicara di depan banyak orang. “Dulu malu-malu, sekarang malu-maluin,” begitu gurauan kawan-kawanku.  

Harapanku, semoga ke depan semua masyarakat lebih peduli lagi, punya rasa memiliki dan menjaga kehati, termasuk burung-burung yang ada di lingkungan sekitar kita. Ketika kita berbuat baik ke alam, hal baik akan diberikannya kepada kita. Salam lestari.

Foto dok. pri. Supangat

Newer Posts
Older Posts

Serba-Serbi

  • Riset
  • Opini
  • Desa Ramah Burung
  • Kopi Konservasi
  • Liputan
  • Profil
  • Shade Grown Coffee
  • Adopsi Sarang Burung
  • Sejarah
wa

Follow Us

Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates