Lebih dekat dengan Desa Ramah Burung (1): Ketertarikan meneliti Jatimulyo

by - February 15, 2021


Tulisan pengantar ini menjadi bagian pertama dari lima tulisan Faradlina Mufti yang memaparkan seluk-beluk penelitian tesisnya “Struktur Komunitas dan Upaya Konservasi Burung di Desa Jatimulyo, Kulon Progo, D.I.Y.”. Mufti melakukan penelitiannya sepanjang 2019 dan kemudian memperoleh gelar Magister of Science dari Universitas Gadjah Mada di penghujung 2020. Sebelum seri tulisan ini, ia berbagi sepenggal kesan dalam “Minggu pagi minum kopi di Jatimulyo”. 
 
Lebih dekat dengan Desa Ramah Burung (2): Komunitas burung Jatimulyo dan habitatnya

Lebih dekat dengan Desa Ramah Burung (3): Upaya konservasi burung di Jatimulyo

Lebih dekat dengan Desa Ramah Burung (4): Persepsi masyarakat Jatimulyo terhadap konservasi burung

Lebih dekat dengan Desa Ramah Burung (5): Hubungan antara komunitas burung, upaya konservasi, dan persepsi masyarakat Jatimulyo
 


Menurut pengamatan awal saya secara singkat lewat berbagai cara, baik melalui media sosial, laman-laman website, maupun secara langsung, di Jatimulyo telah terbentuk peraturan desa yang berisi larangan perburuan dan konservasi burung yang melibatkan masyarakat lokal. Di beberapa sudut pinggir jalan Jatimulyo, nampak terpasang papan-papan reklame berisi peraturan tersebut.

Terbentuknya peraturan desa, berikut papan-papan reklame dengan berbagai logo komunitas yang terpajang tepat di bagian bawahnya, dapat menggambarkan adanya keterlibatan masyarakat berskala luas dalam menjaga dan melestarikan burung. Tidak hanya masyarakat pada level desa, melainkan juga masyarakat secara umum.

Keterlibatan banyak pihak dalam menjaga dan melestarikan burung ini kemudian membawa dampak keuntungan secara ekonomi. Masyarakat lokal yang terlibat dalam kegiatan konservasi burung mendapatkan penghasilan tambahan, salah satunya lewat birdwatching tourism.

Ada anggota masyarakat yang berperan sebagai pemandu lokal (tour guide) pengamatan burung. Terutama mereka yang berlatar belakang pemburu. Selain mendapatkan penghasilan tambahan, birdwatching tourism secara perlahan juga dapat mengurangi laju perburuan burung akibat dari perubahan cara untuk mendapatkan penghasilan, yang awalnya sebagai pemburu burung menjadi pemandu pengamatan burung. Sebagai akibat perubahan cara mendapatkan penghasilan (dari pemburu menjadi pemandu), terutama sejak terbit Perdes No. 8 tahun 2014, tentu secara tidak langsung dapat mempengaruhi dinamika komunitas burung di Jatimulyo.

Komunitas burung dan kegiatan konservasi di Jatimulyo yang melibatkan masyarakat lokal tersebut cukup menarik. Mendorong saya untuk meneliti dan mendokumentasikannya, dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh dan efektif upaya konservasi yang telah berjalan terhadap kelestarian burung berikut dampaknya terhadap masyarakat. Selain itu, yang tidak kalah penting, mempelajari seperti apa upaya konservasi burung yang melibatkan masyarakat lokal ini diawali, dibentuk, disosialisasikan, dan diterapkan. Dari tahap gagasan sampai tahap implementasi pada masyarakat, hingga terbentuk Perdes No 8. Tahun 2014 yang salah satu aturannya berisi larangan berburu burung. Bahkan lebih dari itu, hingga sampai membentuk kesadaran pada masyarakat secara umum bahwa burung itu ada di hutan, kebun, pekarangan bukan di kandang; bahwa burung itu perlu dijaga bukan untuk diambil atau dipanen tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya; bahwa memelihara burung itu bisa dilakukan di alam bukan di kandang. Ini tentu tidak mudah, ada proses panjang di dalamnya. Ada orang-orang “gila” di balik cerita panjang konservasi burung di Jatimulyo. Bagi saya, ini sangat menarik untuk dipelajari.

Penelitian saya awali dengan melakukan pengamatan burung. Saya mencatat setiap jenis yang teramati, termasuk jumlah individunya, dan blusukan ke sudut titik-titik pengamatan yang telah ditentukan. Titik pengamatan tersebut ditentukan secara acak, jumlahnya mencapai 100 titik.

Selanjutnya, untuk menggali informasi tentang upaya konservasi burung yang berjalan, saya mewawancara beberapa narasumber. Tentunya orang-orang yang mengetahui secara pasti seluk-beluk kegiatan konservasi burung di Jatimulyo.

Saya juga membagikan angket ke masyarakat setempat, dengan tujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap burung dan upaya konservasi di desa mereka. Angket dibuat pada Google Form, kemudian disebar lewat aplikasi WhatsApp.

Hasil penelitian ini saya bagi menjadi lima bahasan pokok. Pertama, komunitas burung dan habitat; kedua, upaya konservasi burung; ketiga, persepsi masyarakat terhadap konservasi burung; keempat, hubungan upaya konservasi, persepsi masyarakat dan komunitas burung; dan kelima, keberhasilan upaya konservasi burung.


You May Also Like

0 comments